Mignon

―[Oops, my baby, you woke up in my bed.]

Dari semua orang yang pernah berdiri di hadapannya dan mengomel, Taehyung tak pernah menghabiskan waktu terlalu banyak untuk menjawab bahwa Park Jimin adalah satu di antara dua yang paling angker. Posisi satunya tentu didiami Jung Hoseok yang bisa meledak kala emosi di bahunya makin menumpuk namun sembah kerang ajaib, yang bersangkutan tengah berada di luar benua sejak kemarin siang.

Kembali lagi ke realita sekarang dimana Park Jimin yang mungil dan menyeramkan masih melipat tangan sembari melempar pandangan menuduh. Seharusnya skenario ini tak perlu bertambah lebih memalukan; lain halnya jika ada Jeon Jungkook di apartemenmu dan ia tengah menikmati sereal curiannya dari balik island. Ingatkan Taehyung untuk menendang bokong si berengsek itu setelah pembicaraannya dengan Jimin berakhir.

Repeat that again.”

Ada hela napas yang membubung ke udara sebelum Taehyung menyiapkan suara―kemeja kotak-kotak merah dan hitamnya mulai kusut lantaran dijadikan pegangan hidup selama lima belas menit terakhir. “I woke up beside her this morning and―”

Didn’t you two broke up months ago?

No shit, Sherlock.” Taehyung mendengus lantas melempar topi baseball miliknya ke arah Jungkook yang dengan gesit mengelak ke samping. Senyum si bungsu kemudian benar-benar menyebalkan dan Taehyung berharap ada tangan berbulu keluar dari mangkuk sereal lalu mencekiknya.

Jimin berdeham dan saat itulah aura di sekitarnya berangsur dingin lagi. “Eyes up here, Taehyung,” titahnya galak. “Jadi biar kusimpulkan. Kau terbangun pagi ini di apartemen Mia―dan untuk lebih jelas: di tempat tidurnya, tepat di sebelahnya dan kau tak ingat tentang kejadian malam sebelumnya?”

Gelengan pelan. Bahkan kelewat inosen dan Jimin memuntahkan umpatan.

You’re a jerk.

What the fuck?

“Dengar, Taehyung. Hal terakhir yang kau katakan di grup kemarin sore adalah pergi ke suatu tempat demi pencerahan setelah masa pengambilan gambar untuk film terakhirmu selesai; mungkin ditemani beberapa gelas minuman dan kau menolak ketika Seokjin menawarkan makan malam cuma-cuma atau aku yang hendak menemani.” Sahabatnya berkata tanpa ada nada tajam namun Taehyung menyadari poin pentingnya. “Not that I define you as an asshole who turns away from a famous saying ‘friends before hoe’ but here we are, Taehyung. I may be the most flirt out of the seven of us but I won’t go around the city to go back to his ex and ended up in the same bed―”

I don’t even remember whether we touch each other or not, okay?” Suara Taehyung meninggi dan ia lega karena suasananya tak lagi semenegangkan tadi. Ia telah mengenal Jimin terlalu lama dan Jimin yang menghela napas lalu mencari tempat duduk terdekat adalah tanda bahwa lelaki itu tengah berusaha menenangkan diri. “Do you remember how devastated I was when she bid her goodbye before summer? She said that but even until today I let myself still believing she wasn’t in her own head when those words come out.”

“Taehyung ….”

Yes, I still want her back. But I won’t fucking force myself on her like you imagine, Jim.” Sebelah tangan Taehyung menyisir rambutnya dengan gerakan lelah. “I swear I’m not that horrible.”

Deru emosi yang semula mengisi rongga telinganya beberapa saat lalu kini mulai mereda. Jimin lantas menyisip teh paginya dan Jungkook―terima kasih Tuhan ia tak berlaku kurang ajar lagi―bergabung dengan keduanya di ruang tengah dengan hela napas panjang. Kilau mata si bungsu tak lagi menyiratkan sorot mengajak perang; kali ini ia duduk di sebelah Jimin dengan gestur yang membuatnya terlihat lebih dewasa dan bijaksana.

Just don’t outdo yourself this time, Taehyung,” katanya; meletakkan topi baseball yang semula melayang ke arah dapur di meja. “If she wants you back, she’ll show it somehow.”

Dan pada kata-kata si termuda-lah Taehyung berpegang ketika memori di kepalanya kembali bergulir.

Senin pagi menyambut lelaki itu dengan aroma ruangan berbeda serta jatah tidur yang terasa lebih lama setelah empat bulan. Mengusap-usap permukaan tangan pada selimut yang mengungkung, Taehyung membuat mental note untuk memesan kamar di hotel yang sama lantaran tempat tidur yang ini terasa seratus kali lebih baik dibanding yang lain; namun kedua matanya lantas melotot dua detik kemudian kala ia berguling ke samping.

Shit, shit, shit.

Jika gurauan sahabat-sahabatnya saat kuliah mampu membuat dirinya melompat dan berlari ke lobi dorm gara-gara mainan yang bisa menggeliat dan bersuara, maka terbangun di sebelah Mia memaksa Taehyung mengambil keputusan membuang karier, pindah kewarganegaraan dan mengganti identitas diri.

Iya.

Lebih baik demikian daripada kembali pada realita bahwa Mia bukan lagi miliknya.

Mia tersenyum meskipun Taehyung terlihat macam orang lupa mengenakan celana. “Are you okay? I guess … you’re having a bad headache?” Kalimat wanita di hadapannya merasuki indra pendengaran Taehyung tanpa ampun dan ia berharap ada percikan lebih di dalam sana ketimbang serpihan canggung. Ini kali pertama keduanya bertemu dan … apa? Dalam keadaan hangover? Hah. “I’ll go get you something.”

Ada desir familier ketika tubuh Mia beringsut―agak terburu―dari tempat tidur dan menuju kursi baca demi kardigan tipis yang kemudian ia sampirkan di sekitar bahu. Pintu kamar wanita itu tertutup dengan suara klik pelan dan untuk semenit penuh Taehyung memutar otak―does he have to wait there or what?

Jadi sampailah ia pada keputusan paling konkret: keluar dari pelukan selimut tebal ini, memastikan pakaiannya lengkap (dan dengan maksud lengkap adalah lengkap secara harfiah) serta memeriksa refleksinya di kaca. Ia tak minum sampai mabuk dan membiarkan dirinya terlalu lepas semalam―itu yang ia ingat―namun menegaskan bahwa semuanya baik-baik saja bukanlah suatu dosa.

Hal pertama yang menyambutnya adalah sosok Mia dengan buntalan bulu putih di pangkuan sementara wanita itu bolak-balik memindahkan bantal sofa yang berjatuhan. Taehyung membiarkan senyum kecil merangkak sebelum menghilangkannya kembali ketika si empunya ruangan mengangkat wajah.

“Oh, hei, maaf.” Kurva bibir Mia terbentuk lagi―sial. “Kau tahu jika Baron tidak tidur bersamaku, hal inilah yang akan ia lakukan sebagai ajang balas dendam.” Satu bantal mungil terletak miring di ujung sofa dan wanita itu membenarkan posisinya. “Aku membuatkanmu sesuatu. Um … kuharap teh chamomile cukup? Atau kau ingin sereal?”

How on earth you know my head throbbing like crazy?” Lelaki itu mengangkat sebelah alis waktu bertanya sambil berusaha sekuat mungkin tak berharap terlalu tinggi.

Namun toh Dewi Fortuna menyayanginya pagi ini karena jawaban Mia selanjutnya adalah, “Because there’s redness under your eyes, your voice sounds a little hoarse and … I don’t know I just have a feeling you’re not really well.” Ya, begitu, dan jika semburat merah muda di pipi Mia tak berarti apa-apa, Taehyung rela berperan sebagai kakek-kakek penggoda di tawaran selanjutnya.

Saat ruang tengah apartemennya sudah terlihat lebih layak ditinggali, Mia membiarkan Baron si Kucing melengos anggun dari pangkuannya. Taehyung ingat Baron memiliki dendam kesumat dan akan mengerahkan seluruh kekuatannya demi perhatian sang majikan apabila lelaki itu tengah bertandang―dan mengingat nasib hubungannya dengan Mia sekarang, Taehyung berani bertaruh ego hewan itu sudah setinggi Menara Eiffel.

Satu kontak mata melawan Baron; dan Taehyung membalasnya dengan jari tengah waktu Mia tak melihat.

“Tae?”

Jika seseorang bisa pingsan kala merasa senang namanya dipanggil, maka mungkin Taehyung sudah bersatu dengan lantai sekarang.

Lelaki itu mengikuti langkah sang empunya menuju dapur; di mana ia disambut oleh wangi teh yang baru diseduh serta pemandangan familier. Bahkan perabotannya tak banyak yang berubah: Mia cinta warna putih jadi keseluruhan apartemennya dipenuhi oleh aksen demikian. (Taehyung merasakan perutnya melilit; setelah sekian lama dan ia masih hafal segalanya).

Rough weeks, I guess?” Sang lawan bicara melontarkan kalimat basa-basi sementara jemari lentiknya meraih sendok gula di tengah meja. “Mulai berteman dengan alkohol.”

Taehyung melontarkan gumam tawa pelan. “Aku masih membenci minuman itu, Mia. Dan mungkin hanya akan mendekatinya apabila aku mulai gila,” jawabnya kalem―hanya di luar. Di dalam, perutnya jumpalitan mati-matian.

So … it’s really been bad enough? Kau tahu selama kita masih … um―dulu, aku hanya pernah melihatmu mabuk satu kali. Itu pun ketika kau bertengkar hebat dengan seorang sutradara?” Mia menyelesaikan pertanyaannya dengan nada canggung dan Taehyung sama sekali tidak melewatkan bagaimana wanita itu hampir terpeleset soal menyebut hubungan mereka.

Dan pipinya yang memerah, tentu saja.

Yeah.” Senyum kecil Taehyung mengembang tanpa bisa ia hentikan. “Satu dari dua yang terparah, jika kau ingin tahu.”

And the other one is when I lose you.

―[We ain’t ever getting older.]

I think she’s seeing someone.”

Dari balik naskah panggung yang tengah dipahaminya selama empat jam terakhir, Jimin mendongak dengan sebelah alis yang diangkat. Kacamata bacanya merosot hingga ke hidung dan apabila Taehyung tidak sedang dalam mode cemas dan gelisah, ia akan telah meneriakkan sederet kalimat cemooh sekarang.

And how the hell you conclude that thing?

Taehyung mengangkat bahu seolah pernyataannya tadi berisi poin sepele seperti tetangga sebelah yang memiliki peliharan baru berupa seekor ayam jago. “Aku melihatnya lagi minggu ini; di tempat yang sama dan sendirian. Aku tidak menghabiskan waktuku sehari, dua hari dengannya untuk tahu bahwa Mia bukan penyuka klub malam, Jim.”

“Dan kau pun begitu.”

“Itu karena aku tak bisa menahan lebih dari dua gelas.”

“Bocah.”

“Jim, aku serius.”

Buntalan kertas yang sudah penuh dengan coretan highlighter berkat kebiasaan Jimin yang mudah lupa kini terempas tak bertuan di meja; sementara si empunya meregangkan otot dan menyambar botol air mineral di sela tumpukan bantal sofa. Taehyung memutar bola mata lantas melempar botol miliknya ketika Jimin masih berusaha menggali di antara sofanya.

“Josie selalu gila soda apabila pekerjaannya meningkat dua kali lipat. Kau tahu bagaimana ia selalu menjitak dahiku jika aku muncul di hadapannya dengan sekaleng cola?” Jimin menggumam sembari menutup botol air mineralnya. “Mari anggap kalau Mia sedang menghadapi hal berat; risetnya atau mungkin mahasiswanya? Toh aku yakin ia tak mungkin datang ke sana on regular basis. Kalian selalu memesan minuman bayi saat kita sedang berkumpul, Tae.”

“Susu stroberi bukan minuman bayi.”

Whatever helps you sleep at night.”

Maka Taehyung membiarkan memorinya bergulir ke masa lampau ketika Jimin kembali lagi pada naskahnya. Sabtu malam dan lagi-lagi lelaki itu menolak ajakan berkumpul sahabat-sahabatnya―ia tahu Jungkook baru saja mendarat sore harinya dari Geneva dan Yoongi yang konkret hanya bisa diganggu di waktu tertentu saat akhir minggu.

Ia bahkan masih habis-habisan merutuk diri sendiri sedetik setelah mesin mobilnya benar-benar mati. Klub malam identik dengan bau alkohol, asap rokok―entah yang berjenis elektrik atau tradisional, fuck that―, tubuh manusia yang saling menghimpit lantas berbagi bau keringat dan lampu warna-warni. O, bagus. Berdiri di depan kamera sambil berakting dengan siraman pembantu cahaya yang kadang panasnya menyengat seperti belum cukup; namun kini Taehyung berpegang pada tarikan di abdomennya. Seolah jika ia pulang, ia akan gelisah di tempat tidur dan terpaksa mencari tempat lain untuk menghabiskan waktu.

Penjaga di depan pintu menyalaminya kelewat semangat kala ia memberi kartu identitas untuk diperiksa. “Semoga film barumu beruntung!” katanya sementara Taehyung memberi pria itu anggukan kecil. Orang-orang jarang mengenalinya di jalanan karena peran yang ia mainkan kadang membutuhkan makeover luar biasa; jadi bukanlah sebuah dosa apabila kini seluruh tubuhnya terasa hangat setelah sederet kalimat singkat.

Lorong yang ia telusuri berakhir di sebuah ruangan yang terbuka lebar dengan musik techno memenuhi indra pendengarannya; dan Taehyung harus menyelipkan tubuh di antara para pengunjung yang mulai mandi keringat mereka sendiri. Tujuannya toh bukan lantai warna-warni di mana orang-orang berlomba unjuk keahlian menari jadi perjalanannya masih lumayan jauh demi tempat pemberhentian di sisi lain ruangan.

Okay, Gentleman, what would you like to order?

Give me rum and coke.” Taehyung berujar sembari mendudukkan dirinya di kursi tinggi.

Short or tall?

Make it tall.” Ia menjawab; mencoba menyamai volume musik.

Lelaki itu tak sepenuhnya awas, tidak, ia mengeluarkan telepon genggamnya sedetik setelah si bartender berambut jelaga berbalik dan menyiapkan pesanan. Wajahnya mengingatkan Taehyung akan rekan mainnya di salah satu film dimana ia mencederai pinggulnya sendiri.

Bicara tentang cedera pinggul, lelaki itu ingat bagaimana reaksi Mia waktu Hoseok menelepon wanita itu untuk mengabari.

Seokjin mengatakan bahwa ia perlu pelan-pelan meminta Mia melirik kotak makanan lengkap yang telah ia siapkan dan Namjoon yang mengingatkan wanita itu bahwa ada kelas pagi yang perlu ia asistensikan. Taehyung bahkan tak bisa mencegah kurva senyumnya ketika Yoongi memberitahunya perihal Mia yang tak mau pulang dari rumah sakit dan berkata di tengah ekspresi wajahnya yang panik: “I’ll make sure he will only take a role as a grandpa who sits on his lazy chair all day next time. Idiot macam apa yang mengambil peran dengan risiko berkelahi di puncak kereta berkecepatan normal. God ….”

Pesanannya tiba dan Taehyung hanya mengutarakan pada si bartender muda untuk membuka tab untuknya. “Get me if you need anything more, Sir!” Dan ia balas dengan anggukan setengah hati―setidaknya pelayannya kali ini bukanlah seorang penggemar dalam hal mencampuri urusan pengunjung yang datang sendirian di Sabtu malam.

Terima kasih Tuhan.

Taehyung baru selesai bergabung mengejek Jimin di kamar obrolan messenger kala tempat duduk di sebelahnya terisi―yeah, dan jika Dewi Fortuna lagi-lagi mempermainkan nasibnya di masa depan; lelaki itu akan pulang lalu mempertanyakan keputusan hidupnya di ruang tengah.

Mia masih setia membubuhkan wangi parfum dengan aksen peach dan jika hal demikian tidak mampu membuat perut lelaki itu seperti tergelitik, entah hal apa yang bisa.

Trying to get wasted again, I see?

Dan jawaban yang Taehyung berikan hanya sahutan tawa renyah ditambah pertanyaan simpel: “How are you?” dengan sejumput harapan bahwa kejadian ini bukanlah fatamorgana.

Toh, kini ia berpegang pada kata-kata Jimin dan Jungkook tempo hari.

If he can play his card smoothly, there’ll be another day to talk about what they ever had fully.

―[So won’t you hurry? Come on, Boy, and see about me.]

Taehyung menjalankan advis Jimin ketiga kalinya ia bertemu Mia tanpa ada perjanjian apa-apa. “Kau hanya memastikan nomor ponselnya tak berubah, Tae, itu normal dilakukan semua orang.” Jimin memberitahunya dengan ekspresi gemas yang kentara. Di sisi lain, Taehyung berharap tetap bisa bertemu Mia ketimbang satu pertanyaan bodoh dan akhirnya wanita itu berbalik tanpa ada keinginan berbicara lagi.

Yeah.

Lelaki itu boleh membawa pulang ratusan penghargaan dan berakting di depan orang banyak tanpa rasa gugup; namun ketika berhadapan dengan Mia―dan mengingat kondisi hubungan keduanya yang masih rentan―lebih baik ia pulang dan menggunakan aturan main aman. Tapi toh sebagai teman yang baik, Jimin sudah membaca gelagat itu sejak lama; dan ketika Taehyung lagi-lagi bertingkah macam remaja SMA yang baru jatuh cinta, serangan lewat media obrolan adalah satu-satunya cara.

Ask her now, oh my God. (Read: 8.02 pm)

Taehyung you need to man up. You want to win her back, don’t you? (Read: 8.02 pm)

If you call me later and I hear one more bullshit about don’t want to get rejected, I’m going to roast you. (Read: 8.02 pm)

Do it and thank me later. (Read: 8.03 pm)

Satu sisip minuman dan pertanyaannya keluar.

Dari tiga pertemuan yang pernah terjadi, Mia tak pernah terlihat lebih berkilau―yeah, apalagi ketika wanita itu mengangguk pelan dan berkata bahwa ya, Taehyung bisa menghubunginya lagi setelah ini. Jadi Sabtu pagi datang menyapa dengan Jimin yang berdiri like a proud father, hell yeah lalu Jungkook yang dengan kurang ajarnya memonopoli kasur Taehyung.

You look like those cheesy high school girls going on their first date.” Si bungsu mendecak dari arah tempat tidur; pandangannya tidak sedikit pun berpindah dari layar kamera. “Chill, Silly, it’s just Mia. You’ve known her for centuries.”

You say that like I’m an immortal freak trying to impress his mate.” Taehyung mendengus dari balik kemeja merah berbahan silk―kenang-kenangan dari seorang rekan main―yang lantas ia pisahkan ke samping. Cuaca terlalu panas dan ia tidak ingin sampai di tempat pertemuannya dengan Mia sambil mandi keringat. Tidak. “And yes, it’s just Mia but now I’m going back from the start, yeah? Sekarang bantu aku memilih. She used to coo at my sweater paws.”

Aw, my baby is all grown up.” Jimin mengacak-acak rambut sahabatnya sementara ia berjalan melewati lelaki itu menuju lemari baju yang setengahnya telah dikeluarkan. “But, no. You’re not wearing sweaters, I forbid you.”

Jimin tidak bercanda waktu ia menggumam di bawah hela napasnya bahwa ia akan bertanggung jawab penuh akan rangkaian kencan Taehyung dengan Mia. Kencan. Hah. Dan Taehyung merasa seperti tengah mengulang lagi hubungannya dari awal. Ya. Harus penuh kehati-hatian kali ini.

Take this.”

What the fuck, Jim, no. This is when I played as Dorian Gray. Are you fucking kidding?

Yet it’s in your closet, so as your advisor, you need―

I’m okay with sweater and jeans―”

Who wear sweater on their first date, ew.”

Taehyung memutar bola mata sepenuh hati. Dia bukanlah yang terpayah untuk urusan berpakaian―jangan mulai dari isi walk in closet miliknya―namun sensasi jumpalitan di perutnya benar-benar tak membantu, demi Tuhan. Dan ia merasa pencapaian atas namanya di puluhan majalah seolah balik mengejek. Jika ia boleh keluar hanya dengan hoodie dan ripped jeans … hah.

Mia datang lewat sepuluh menit dari waktu yang mereka tetapkan dengan membawa serta aroma parfum familier serta sebaris permohonan maaf soal keperluan mendadak. “Kau tahu mahasiswa sekarang sering mengumpulkan makalah lewat dari deadline, Tae? Dan mereka akan memohon-mohon padamu di telepon untuk menghilangkan peraturan pengurangan nilai.” Mia mengomel sambil menyampirkan mantelnya di sandaran kursi.

Dan Taehyung?

Taehyung duduk di kursinya dengan seulas senyum tipis yang menyembunyikan gempuran hebat di perutnya. Ia sama sekali tak melewatkan bagaimana Mia bertanya kalau-kalau ia sudah memesan, bagaimana Mia memanggil waiter dengan nada sopan dan bagaimana Mia menyenggol lengannya karena ia tak kunjung memerhatikan. Hela tawa lawan bicaranya sama sekali tak membantu waktu Taehyung sadar ia benar-benar tidak fokus.

Pesanan dicatat dan si waiter berbalik dengan latar belakang bunyi klakson di kejauhan. Restoran mini bergaya klasik pilihan Mia terletak di pelataran jalan raya persimpangan dan bahkan Taehyung harus tiga kali (ya, ia menghitung) berhenti untuk membubuhkan tanda tangan. Hah.

“Kau datang tepat waktu?” Mia bertanya sambil melipat kedua lengan.

Taehyung mengangguk singkat dan bersamaan dengan itu, ponselnya di ujung meja bergetar dua kali. Ia meraihnya dan menon-aktifkan si benda malang. Jika itu adalah notifikasi pesan dari Jimin yang lagi-lagi mengirimkan sederet kalimat pemberi semangat, maka Taehyung berterima kasih sepenuh hati karena ia tak sempat melihat. Mia memberinya tatapan pertanyaan namun lelaki itu menggulir topik demi mengubah keadaan.

How’s life, Mia?”

Untuk sepersekian detik, Taehyung menangkap ada kilat lain terselip pada manik wanita di hadapannya namun kemudian ujung bibir Mia terangkat dengan cantik.

“Riset, riset dan riset.” Sang lawan bicara menghela napas. “Kau tahu keadaan di mana pembimbingmu tak seratus persen berada di lingkungan kampus dan pada waktu bersamaan, mahasiswamu akan bertingkah di luar jalur. Makalah yang lewat deadline, nilai ujian di bawah rata-rata, bahkan ada yang datang padaku dengan—” Mia terlihat tak yakin kali ini namun ia mendengus pelan lalu melanjutkan, “that old dirty tricks. You know what I mean. It’s disgusting. Kukira hanya mahasiswa perempuan saja yang berlaku demikian, God ….”

Did you—”

No!” Oke, respons Mia mungkin terdengar sedikit lebih cepat dan ia terdengar panik, namun di luar itu Taehyung merasa ada kelegaan menguar di perutnya. “How could I, Taehyung ….”

Vokal si wanita menyiratkan keputusasaan; dan sebelum Taehyung sempat menggali lebih dalam, waiter mereka kembali dengan nampan stainless berisi pesanan. Ia memerhatikan dari sudut pandangan cara Mia berkutat dengan jemarinya—suatu gestur kecil yang kerap dilakukan kala pikiran si wanita penuh atau tengah bimbang.

Dan secepat Mia menyadari gerak-gerik Taehyung, secepat pula wanita itu melompat ke pembicaraan lain.

How about you?

Si lelaki meninggalkan pesanan lemon punch-nya setelah dua sesap, lantas mengistirahatkan ujung dagunya di tumpuan tangan. “Same old, old life,” jawabnya. “Tawaran baru, persetujuan kontrak, proses mengambil gambar, opening, and blah blah—” Mia terkikik di bagian ini, “—dan aku belum mengambil peran berbahaya lagi, in case you’re wondering. But no, no role as a grandpa who sits on his lazy chair all day. No.

Tawa halus Mia berdering di antara keduanya namun ada gejolak tak nyaman yang sampai detik ini mendekam menolak untuk keluar. Ya, obrolan mereka mengalir dengan mudah dan bahkan dua jam berlalu tanpa mereka sadari—tiba-tiba Mia melontarkan permintaan maaf lagi karena ia harus kembali demi menyelesaikan beberapa urusan. Lecturer’s duty; katanya, mengingatkan Taehyung akan excuse Namjoon setiap kali ia dan keenam sahabatnya berkumpul. Jadi Taehyung mengalahkan Mia yang hendak berjalan menuju kasir dan memastikan wanita itu sampai di mobilnya dengan selamat (Jimin akan mengatainya habis-habisan jika mengetahui ini, jadi tutup mulutlah kalian).

Until next time, Tae.”

Kalimat Mia mengandung permintaan dan Taehyung mengerti itu. Empat kali pertemuan dan mereka literally hanya mengulang pembicaraan: how’s life, kesibukan terakhir dan segala macam basa-basi busuk hanya agar suasana tidak merosot canggung.

Memalukan.

Ia hendak mengejek dirinya sendiri karena hei, wanita itu sudah memberikan puluhan lampu hijau sejak pertama kali keduanya bertemu lagi setelah beberapa bulan dan itu sudah berminggu-minggu yang lalu.

Sementara bokong mobil Mia berbelok di kejauhan, Taehyung menghela napas dalam-dalam dan meminta pada Dewi Fortuna—tolong berikan kesempatan yang sama lagi dan ketika waktunya tiba, ia akan menyenggol si topik terlarang supaya muncul ke permukaan.

―[‘Cause I realized the truth, they can’t love me like you.]

Interaksinya dengan Mia berangsur membaik setelah Taehyung memberanikan diri mengajak wanita itu mengobrol lewat messenger; dan dari sanalah pertemuan mereka yang kelima, keenam serta seterusnya terjadi. Kadang Mia menemaninya mempelajari naskah sementara si wanita menyusun tesis; atau Taehyung yang memiliki rencana spontan menjemputnya di gedung kampus.

Satu hal yang sangat disyukuri Taehyung selain keputusannya di detik terakhir perihal penawaran karakter pada sebuah proyek film musikal adalah bahwa ia pernah berkunjung ke kediaman orangtua Mia setidaknya satu kali―waktu itu tahun kedua mereka bersama dan Mia luar biasa bersemangat merayakan ulang tahun ibunya. Well, bukan perayaan besar-besaran sebenarnya karena selain ia dan Mia, hanya Jaden―kakak lelaki Mia―dan istrinya saja yang juga hadir.

Mom sangat senang karena ini adalah perayaan ulang tahun pertamanya semenjak mendiang Dad meninggalkan kami,” ujar Mia kala keduanya mengambil jalur subway untuk pulang. “Ia menyukaimu, Tae. Mom bilang kau seseorang yang harus dipertahankan.”

Damn, he’s still fluttering when he remembers those sayings.

Maka setelah beberapa waktu kemudian berada di jalur subway yang sama namun dengan perihal undangan berbeda, Taehyung menemukan dirinya dua kali lebih tenang dibanding pengalamannya yang pertama. Ia ingat bagaimana Mia bolak-balik menenangkannya selama di perjalanan bahwa tidak, ibunya tidak semengerikan itu ketika seorang anak perempuan mengundang kekasihnya ke rumah dan bertamu. Kali ini Taehyung memang bisa bernapas lebih lega ketimbang dulu; namun ada segumpal kecemasan menunggu untuk meledak seperti bom waktu.

Apakah ibu Mia tahu kalau kali ini―sekarang―ia dan Mia tak lagi bersama?

“Taehyung?”

Lelaki itu terlonjak di posisinya dan mengundang tawa ringan dari si lawan bicara. “Sorry, I got distracted,” kilahnya sembari menggaruk tengkuk. “Kita akan sampai?”

Wanita di sebelahnya mengangguk. “Tae, kau tahu kau masih bisa mengubah keputusanmu, ‘kan? Aku benar-benar spontan waktu mengajakmu karena Mom benar-benar bersemangat saat mengabarkan bahwa anak Jaden dan Lana yang pertama sudah lahir dan … yeah, ia berkata untuk mengundangmu juga.” Volume suara Mia berangsur kecil menuju akhir kalimat dan Taehyung tak melewatkannya. “Don’t worry she … actually knows about us but still, she wants you to come. Is that okay with you?

I’m perfectly okay with that, Mia.” Ia tersenyum―kaku―dan berharap dapat meyakinkan sang wanita.

You don’t feel pressured, right?

Of course not,” jawabnya; lega karena napasnya berangsur ringan. “Besides, I love kids especially babies. Kadang aku berharap bisa kembali ke masa di mana adik-adikku hanya mampu menangis dan minta susu. Jadi, ya, aku tidak akan menarik kata-kataku, oke? Dan aku luar biasa senang karena telah diundang.”

Seolah hal berat baru saja terangkat, Taehyung merasakan Mia menghela napas panjang. Mungkin ia lega; mungkin ia sangat berterima kasih.

Entahlah.

Taehyung hanya berharap ia tidak salah membaca keadaan.

Mia menarik tangannya ketika informasi dari loudspeaker mengabarkan tentang tempat pemberhentian mereka; kelewat bersemangat dengan senyuman lebar seolah pembicaraan sepuluh menit yang lalu tidak pernah terjadi. Lelaki itu tak ambil pusing, tidak, terlalu lama baginya tak melihat sisi Mia yang ini jadi ia membiarkan dirinya diarahkan hingga turun ke peron dan melangkahkan kaki menuju kios makanan kecil di pelataran parkir.

“Kuharap kau lapar?” Teman seperjalanannya bertanya sambil meraih keranjang belanja. “Kita berangkat pagi-pagi sekali dan pesanmu yang terakhir mengatakan bahwa kau baru saja pulang dari proses pengambilan gambar.” Dan Taehyung merasa ingin menangis di lantai sekarang juga. “Kau ingin roti atau … um, mungkin kita bisa mampir di toko pastry jika kau ingin sesuatu yang hangat?”

Mencoba untuk mengendalikan diri, Taehyung menggeleng. “Bread is fine,” tuturnya. “Ayo, kau tidak ingin tertinggal acara utamanya, Mia.” Wanita itu terkesiap dan lantas meninggalkan kegiatannya memilih cokelat batang―ia mengambil satu tanpa memutuskan merk dan rasa, sepertinya.

Jalanan aspal di luar basah dan masih meninggalkan sisa-sisa hujan semalam―Taehyung mendengar dari pemilik kios waktu mereka mengantri di kasir tentang hujan lebat yang baru mengguyur. Musim dingin hendak mengetuk dan pepohonan di sekitar masih setia menggelar karpet dedaunan merah. Taehyung tak ingat trek menuju kediaman orangtua Mia dapat dengan sekejap membangkitkan rasa ingin pulang ke Daegu―malam Natal tahun lalu dan ia harus kembali ke Seoul keesokannya.

Ah. Mungkin Natal tahun ini ia bisa mengajak serta Mia?

For the love of God, please say yes when I ask you.

We’re here.”

You seem excited.” Kalimat Taehyung mengandung nada sarkas karena langkah kaki Mia menyiratkan kebimbangan sementara rumah dengan dekorasi ‘we’re happy for your baby!” mulai tampak di kejauhan. Jadi tanpa berpikir apakah perbuatannya legal dilakukan, Taehyung berhenti dan berdiri menghadap si wanita. “Are you okay?

Yes.

“Mia, I can go back if you’re not sure whether I’m allowed here or no―”

Of course you’re allowed, Tae!” Mia menjawab dengan gestur terburu. “Kau diundang, oke? It’s just me, I’m not sure about ….

Taehyung menghela napas. “About our relationship?” Lelaki itu memejamkan mata sejenak demi ketenangan kala Mia mengangguk masih dengan pandangan mengarah tanah. “Dengar. Kita tak perlu mengumumkan atau menyapa mereka dengan: ‘Hei, ya, aku mantan kekasih Mia tapi ibunya mengundangku dan, yeah it’s okay because we’re friends now blabla’ kita tak perlu melakukan itu, oke? Aku akan diam dan kau pun demikian, hm?” Jika mengatakan sesuatu yang tak sesuai dengan keinginanmu bisa menyebabkan penyakit, maka Taehyung yakin maagnya bisa kumat sekarang. “We’re here to celebrate your newborn nephew not announcing our relationship, okay?

“…”

“Meemo, please face me?” Taehyung tak tahu setan macam apa yang merasuki dirinya dan memaksanya memuntahkan kata panggilan itu karena hei, dalam sepersekian detik Mia lantas mengangkat wajah dengan ekspresi terkejut. Fuck that. “We’re going to be alright.”

Keluarga Mia besar.

Taehyung lega karena ia menyetujui rencana Mia untuk tetap naik kereta ketimbang harus menyetir dan menghabiskan waktu setengah jam hanya untuk mencari parkir. Menghitung dari varian kendaraan yang berjejer di kanan kiri jalan, suara berisik dari arah taman belakang dan pekik ‘Cheers!’ yang baru saja terdengar; mungkin mereka telat agaknya beberapa menit.

Ibu Mia menyambut keduanya dengan suka cita dan tahu-tahu mereka digiring ke belakang dengan segelas punch di tangan. “Ke sini ‘Nak, kita akan mulai dengan makan siang karena Lana sudah memasakkan sesuatu sebagai bentuk rasa terima kasihnya,” katanya sembari menarikkan kursi. “Mia, Sayang, Jaden ada di ruang tengah. Kau sudah bertemu?”

Will do, Mom.” Mia menyambar lagi ibunya dan mengecup kening wanita paruh baya itu. “Tunggu di sini, Tae. Be back soon.”

Mengobrol dengan Miranda bukanlah sebuah kesulitan dan sebelum ia sempat menanyakan balik kabar wanita itu sambil berharap tidak akan ada topik dengan hubungannya dengan Mia, bahu Taehyung lebih dulu ditepuk dan sosok Jaden dengan sebuntal selimut di pangkuan mengalihkannya. “Congrats, Jade.” Taehyung bangkit dengan sapaan di punggung. “Time’s really flying, yeah?

Kakak lelaki Mia tersenyum memamerkan geliginya. “Yeah. Lana luar biasa senang waktu mendapat kabar kandungannya sehat. Dua kali gagal di masa lampau benar-benar membuatnya trauma,” tuturnya; sementara Taehyung tak bisa menahan diri untuk meraih jemari mungil milik si bayi. “I hope you’re doing well with her, yeah? Saw some dude coming here and be all friendly with my sister last summer.”

Tidak, tidak.

Taehyung tidak bereaksi dengan menggebrak meja lalu menggila, tidak, ia sudah berjanji pada Mia bahwa semuanya baik-baik saja. Jadi mengabaikan gumpalan tak nyaman di perut, Taehyung hanya mengangguk sopan sebagai respons―dan untunglah Mia datang di waktu yang tepat; bersama Lana dan … oh God. The two seem friendly.

“Tae, ini Sungjae.”

Dan Taehyung sempat menangkap kode mata Jaden dari sudut pandangnya. Oh. He’s a professional, he can do this, he promised to Mia

turns out he can’t.

Masa bodoh. Taehyung tak bisa menjauhkan pikirannya dari sumpah serapah paling kasar dan tak masuk akal setiap kali Sung-siapa tadi namanya mengambil alih perhatian Mia tanpa upaya sama sekali. Semoga kau tersedak paprika pedas. Semoga ujung jari kakimu terantuk lemari. Semoga kau menginjak keping lego milik keponakan-keponakan Mia. Semoga kau terpeleset di jalan waktu pulang. Semoga kau

“Taehyung?” Yang namanya dipanggil lantas mengabaikan sejenak pikiran psikopatnya sebelum memastikan ekspresi wajahnya tak menyeramkan lalu berbalik. Mia berdiri―like the sunflower she is―di dekat meja rendah ruang tamu dengan setumpuk piring dan sendok plastik. “Come here. Lana membuatkan tiramisu untuk semua orang. Wait for me in there? I’ll be back in a few.”

I―

I’ll help you.”

Guys, ada yang punya sesuatu untuk dilempar? Karena Kim Taehyung sangat membutuhkannya sekarang.

Ruang tengah kediaman orangtua Mia ramai kala itu; sofa panjang yang ditempati paman dan bibi―sebagian besar bergabung di sana karena Miranda duduk di salah satu sofa tunggal sambil menggendong cucunya. Taehyung menumpu siku di pinggiran sofa sembari bertopang dagu―sesekali melontarkan tawa halus kala bayi di pangkuan Miranda tersedak atau tiba-tiba bereaksi akan panggilan keluarga barunya.

Lalu ada dua buah kursi yang diseret dan diposisikan tepat di seberang; di hadapan meja rendah. Taehyung mendongak sesaat dan membayangkan bagaimana rasanya melempar botol susu bayi lalu mencetak homerun di dahi seseorang.

Iya taruh saja di sana; duduk bersebelahan dengan Mia kuharap kaki kursinya patah dan kau terjerembab dan tulang bokongmu bergeser dan kau akan berjalan seperti seseorang yang baru saja ditiban tangga kayu.

Satu slice tiramisu dingin buatan Lana lenyap dalam sekejap―Miranda bahkan bertanya apakah ia ingin menambah satu slice lagi. Mia menawarkan diri namun Taehyung menggeleng; dengan halus menolaknya karena satu-satunya hal yang ia inginkan sebenarnya mengambil sisa tiramisu di lemari pendingin dan bermain perang makanan satu lawan satu.

Mom, we’re leaving at 3. Kereta akan penuh jika kami pulang terlalu malam. I’ll make sure to spare time and visit again.” Mia berkata di tengah-tengah sesapan punch miliknya. Ibunya mengiakan dan berbalik pada Taehyung untuk memintanya kembali bertamu―bersama Mia atau kapan pun. “He will, Mom.” Mia menjawab untuknya sambil duduk di pegangan sofa; di sebelahnya.

I’ll give you a ride.” Sungjae menyahut dari seberang meja.

Mia menggelengkan kepalanya pelan. “No, it’s okay. Kami akan berjalan menuju stasiun. Jaraknya tak terlalu jauh―the weather’s nice we’ll enjoying the view. Right, Tae?”

But it’s cold out there, Mia.” Si lelaki berargumen lagi―o, benar-benar.

I’m already warm enough, don’t worry.”

―[Speaking truthfully, I love you more than you love me.]

Dulu, Mia selalu melakukan permainan kecil setiap kali wanita itu berkunjung ke apartemen Taehyung; atau sebaliknya. Bukan hal besar dan bukan pula sesuatu yang istimewa; namun setelah ratusan kali menjadi objek atas kelakukan eksentrik si wanita, Taehyung tak pernah berhasil menahan diri untuk tetap tenang di setiap kesempatan.

Identik dengan kejutan? Hm, hampir mendekati.

Spesial? Sangat.

Mia akan pura-pura lupa bahwa ia masih mengenakan sweater atau jaket milik Taehyung waktu diantar pulang―atau Mia akan iseng membawa serta charger, laptop ataupun sesuatu yang sangat penting setiap selesai berkunjung. Saat Taehyung bertanya tentang alasannya, Mia hanya menjawab sembari mengangkat bahu. “To make sure about something. I won’t tell you,” katanya sambil memeletkan lidah dan tertawa.

Minggu ketiga bulan November menyambut Taehyung dengan udara yang berangsur dingin dan jalan raya sepi kala pagi buta. Sesi pengambilan scene baru berakhir satu setengah jam yang lalu―ia hampir menangis bahagia saat ekor matanya menangkap pendar lampu hangat sebuah coffee shop yang masih―atau sudah―beroperasi, thank God. Karena dengan kencannya bersama Mia dalam beberapa jam, satu hal yang dapat membuat dirinya tenang dan tetap dapat berpikir jernih setelah harus menggigil di tepian sungai sambil mengangkat shotgun adalah kafein.

Dalam jumlah yang banyak.

O, tunggu.

Bukan masalah kencannya yang ia takutkan; melainkan masa depan hubungan mereka. Ha. Jika menilik dari beberapa pertemuan ke belakang, ia boleh berdiri dengan dada membusung di depan sahabat-sahabatnya dan mengutarakan, “We’re getting back together in no time.” Tapi tidak. Tidak ketika ia duduk dan pandangannya beradu dengan Mia kala wanita itu tengah tersenyum akan suatu candaan, atau saat ia menemani Mia mencari data di perpustakaan, atau ketika Mia berdiri di samping kaca mobilnya dan berkata hati-hatilah di jalan.

Saat Taehyung sudah yakin hendak membawa topik masa lalu mereka ke permukaan, detik berikutnya ia rela menyodorkan kepala ke mulut hiu apabila ia terlambat menghentikan mulut sendiri.

Still needing advices from your best friend before you go on another date?

Taehyung mendengus sembari membuka bungkus bagel di kursi tinggi. “Cukup, Jim. My dates went just well even without one.” Ia memutar bola mata sementara kekeh Jimin dari loudspeaker memenuhi ruang apartemennya pukul enam pagi. “Dan hal macam apa yang tiba-tiba mampu memaksamu bangun pagi-pagi begini? Got a show for today?

Nope. I legit woke up at the ass crack of dawn because I forgot to reset my alarm from the night before. And I remember my best friend gonna go on a date with the love of his life.” Hela napas Jimin terdengar selanjutnya. “Okay then, if you say so. Dan cobalah untuk kembali pada topik pembicaraan sesungguhnya, Tae. The universe let you two meet again for a reason. That’s cheesy and I’m actually disgusted by my own words but I hope the best for you.”

“Kami sempat membicarakannya tapi waktu tak mendukung, Jim.”

Well keep trying, then.” Ada nada menyemangati ketika sahabatnya berkata demikian. Pembicaraan mereka ditutup dengan gumaman terima kasih dari Taehyung dan kata-kata Jimin berupa: “You owe me a lot, Silly. Now man up and go get your woman.”

Bagel habis dan tidak ada satu pun acara menarik di teve; memaksa lelaki itu untuk menggeret bokongnya ke kamar mandi. Udara dingin dan excuse untuk melewatkan mandi benar-benar populer―Hoseok akan menendangnya jika tahu sahabatnya pergi kencan tanpa menggosok gigi; jadi Taehyung bergantung pada pasta gigi, cairan kumur anti-bakteri dan … semoga ekstra semprotan parfum dapat membantu.

(Not that he’s too lazy to get into the shower but he can feel a cold coming right fucking now. He can’t go on a date with a runny nose).

Taehyung baru akan mengirimkan pesan singkat pada Mia ketika bel pintu apartemennya berdenting. Meninggalkan naskahnya di sofa ruang tengah, lelaki itu bangkit dan menarik kaki menuju pintu. Bagus sekali. Kepalanya benar-benar pening dan ia masih memiliki hutang dua scene terakhir.

“Mia?”

Hey.” Kurva bibir wanita itu terbentuk namun detik berikutnya ada kerutan tipis di dahi diiringi pertanyaan bernada cemas. “Are you okay? Your voice sounds too hoarse.”

It’s okay, I’m―”

sneeze!

No, we’re staying home today. Besides, I’ve got load shits to do.” Mia memamerkan geligi sembari mengangkat paperbag di tangan kiri―Taehyung baru sadar kalau bawaan wanita itu kelewat banyak detik kemudian. Tas ransel, paperbag, tas laptop dan … ya ampun apakah tamunya memiliki lengan tambahan untuk membawa serta dua cup Starbucks dengan pastry? “Kau beristirahatlah dan aku akan keluar pukul sepuluh untuk membeli bahan makanan. There’s no way I let you eat takeout before you have your meds―”

“Meemo ….” Taehyung menggeleng―God, feels so good saying that again without worry. “Biarkan aku tidur sebentar dan kita akan pergi, oke? Anginnya terlalu kencang di luar. Lagi pula kau harus mengurangi kebiasaan membawa beban berlebihan.”

Di hadapannya, sang tamu mengangguk dengan senyum kecil. “Okay, it’s settled then,” katanya sembari meletakkan barang-barang di meja rendah. “Go to sleep now, you look like about to pass out soon.”

Ketika Taehyung kembali bangun, jarum pendek jam di nakasnya bergeser sedikit melewati angka sepuluh sementara jarum panjangnya terpeleset dari angka dua hampir terjatuh. Peningnya tidak terlalu mengganggu kali ini dan memang yang ia butuhkan adalah tidur setelah empat hari berturut-turut hanya bisa mencuri istirahat di bangku yang diurut.

Langkah kakinya di lantai berkarpet menarik perhatian Mia dari balik meja rendah.

Why didn’t you wake me?” Lelaki itu menggumam dari balik mug―Mia menyodorkannya kala ia mengempaskan diri di sofa.

“Tidak. Kau benar-benar butuh tidur, Taehyung,” katanya sembari menutup highlighter dan memindahkan laptopnya ke mode sleep. “Kau baik-baik saja sekarang? Aku bisa pergi sendiri dan mengirim pesan apabila sesuatu terjadi.”

Adalah gelengan kepala pelan sebagai jawaban dan itu adalah final. “I’m getting us jackets.” Taehyung beranjak dari sofa menuju kloset mantel.

Mia hafal kebanyakan resep tradisional yang pernah diajarkan padanya; jadi bukanlah hal yang langka melihat wanita itu bolak-balik menyusuri tiap lorong demi sekotak bumbu, atau gochujang dan bahkan tambahan dedaunan hijau hingga tofu. “Kita butuh tambahan bawang bombay―ow, shit kakiku terlindas kereta dorong. Tae, kau tahu di mana letak aisle susu cair murni? Mom bilang merknya―”

yeah, Kim Taehyung sungguh merindukan masa-masa itu dan rasanya seperti dikelilingi permen kapas sambil berlari-lari di atasnya.

Wanita itu tampak hangat dan mungil dalam kungkungan jaket miliknya―ketika Taehyung membuka pintu kloset mantel, tangan Mia lebih dulu memilih satu dengan warna hijau army dan mengingat bahwa lelaki itu baru saja mengenakannya kemarin … ah. Perjalanan kembali ke apartemen diisi oleh suara Mia yang panjang lebar bercerita tentang seminarnya, perubahan kecil-kecilan di taman kampus hingga grup boyband yang akhir-akhir ini sering muncul di teve. “Apakah Yoongi tertarik untuk berkolaborasi dengan idol?” tanya wanita itu out of the blue. “Dan Hoseok dapat membuat koreografinya!”

Taehyung menahan tawa. “Kau benar-benar menyukai mereka?”

One of the best, Tae! Akan kutunjukkan lagu-lagunya selagi aku memasakkan sesuatu untuk sakit kepalamu.” Iya. Mia hanya mengatakan hal simpel itu tapi Taehyung terkena efek luar biasa berbeda. Mengalahkan sensasi bersemangat yang kau dapatkan ketika salju pertama turun.

Mia memaksanya naik lagi ke tempat tidur pada detik pertama langkah kaus kaki mereka menyentuh lantai apartemen; berjanji akan menyiapkan makan siang dalam waktu singkat dan menggunakan sisa sore harinya untuk melakukan finalisasi. Lelaki itu tak keberatan―hell, mana mungkin―ia bisa memerhatikan Mia yang tengah frustrasi di depan laptop hingga 3 hari lamanya. Janji.

Grup idol yang dimaksud Mia muncul dalam sebuah tayangan ulang acara penghargaan di Amerika waktu Taehyung menyalakan teve; dan derak langkah si wanita yang menghambur dari dapur menuju ruang tengah memaksa kurva yang melengkung di bibirnya terbentuk lebih dalam. “Besarkan volumenya, Tae, aku tak mungkin meninggalkan supnya tanpa penjagaan.” Dan begitulah, menit berikutnya ruangan itu dipenuhi oleh dentum musik ber-genre hip-hop selama beberapa saat.

Sup buatan Mia terasa hambar―sebentar, bukan supnya, tapi lidahnya saja yang sedang dalam mode offline. Ia tak bisa menahan gerombolan landak yang saling bergulir di perutnya kala dahi si wanita berkerut khawatir dan bertanya apakah ia akan baik-baik saja. Taehyung menggeleng. “Aku hanya butuh tidur, Mia, percayalah. And your existence here when I wake up later.” Bagus. Pening di kepalanya mulai berulah dengan mengacaukan sistem verbalnya.

Apakah melihat tamunya tersipu merupakan pemandangan sakral? O, tentu. Bagi Taehyung itu perlu diabadikan malah.

He doesn’t know how one can keep being smitten after years knowing each other.

Langit di luar berangsur gelap waktu Taehyung memutuskan bahwa kondisi tubuhnya sudah membaik dan berhenti menganggurkan tamunya di ruang tengah. Langkahnya tak lagi terasa seperti kau tengah memanggul beton dan pandangannya lebih cerah sekarang.

“Meemo?”

“Hei!” Ruang tengah lelaki itu terlihat lapang sekarang―ia ingat buku-buku Mia yang berserakan memenuhi hampir tiga per empat sofa panjangnya, kabel charger, tumpukan kertas―not that Taehyung keberatan; ia bahkan berniat duduk di sana untuk menemani kalau saja kepalanya tidak terasa seperti mau meledak. “Say, do you still love pasta?

still?

Ah, she remembers.

Taehyung tak menjawab pun mengangguk. Ia hanya mengikuti kata hati dan langkah kaki menghampiri Mia yang duduk di kursi tinggi.

Suara air yang menggelegak di panci di belakang mereka menjadi latar belakang dan tiba-tiba ingatan Taehyung menerpanya dari berbagai arah. Mia yang menunggu pastanya matang sambil membaca buku. Mia yang menuangkan jus dari karton ke gelas tinggi. Mia yang duduk sembari melipat tangan dan bertanya apakah keadaannya sudah berangsur membaik.

I’m as good as a newborn baby.” Si lelaki menjawab; hampir autopilot. “I’ll walk you home and don’t say no, Meemo. After all, think this as the way I thank you.”

Sang lawan bicara terkikik dengan anggukan. “Well then, if you insist,” katanya dengan nada serius yang dibuat-buat. “And would you please help me bring some of my belongings?

With pleasure.”

Jarum pendek di arloji baru saja bergeser sedikit dari angka sebelas ketika Mia memutuskan meminjam kembali jaket Taehyung dari lemari mantel. Si lelaki hanya menggelengkan kepala sambil menunggu di pintu depan dengan kantong kertas di tangan kiri dan kunci yang berputar di jemari tangan kanan. Ia berusaha untuk tak membuang mukanya yang menghangat atau pergi ke lorong gelap terdekat dan meneriakkan perasaan senangnya.

Hell yeah.

Mia mengatakan bahwa ia meninggalkan sebagian pastanya di microwave kalau-kalau Taehyung harus berangkat pagi-pagi sekali besok untuk pengambilan gambar yang tertunda. “Don’t forget your meds,” perintahnya sembari mengulurkan tangan untuk meraih kantong kertas dari pegangan Taehyung. Ia terlihat mungil karena tenggelam dalam jaket yang bukan miliknya. “Night, Tae. Beritahu ketika kau sampai?”

“Tentu, Meemo.”

Yeah.

Taehyung pulang dalam keadaan lebih ringan setelahnya; tanpa bawaan dan jaket yang dipinjam.

Oh.

Oh.

Ha-ha. She does still remembers.

―[Wanna be with you all alone. Take me home.]

Kim Seokjin tidak pernah setengah-setengah apabila ia ikut andil dalam sebuah acara; lebih-lebih jika lelaki itu memegang role sebagai penyelenggara. Yoongi sudah mengumumkan di grup bahwa ulang tahunnya tidaklah terlalu perlu dirayakan namun Hoseok dan Jimin masing-masing menyerang dengan kalimat capslock bahwa: KITA JUGA HARUS MERAYAKAN HUBUNGANMU DENGAN SADIE, YOON!

Jadi dengan lebih banyak janji bahwa Seokjin dan yang lain hanya akan menghias apartemen Sadie alih-alih restoran si tertua―Yoongi berargumen bahwa lelaki itu tak boleh menyetop pemasukan bisnisnya hanya karena hari ulang tahun yang sebenarnya tidak perlu dirayakan―berkumpulah mereka sejak pukul tiga sore. Seokjin menyanggupi namun ia tetap bersikeras memasakkan sesuatu untuk semua dan tentunya sebuah blackforest raksasa bukanlah sebuah dosa.

Lingkar pertemanan Taehyung bisa berubah menjadi aligator ganas apabila berhubungan dengan makanan.

Jimin dengan topi ulang tahun tersemat miring di kepala adalah orang yang pertama menyambutnya di pintu, disusul dengan Sadie yang membawakan punch di masing-masing tangan dan tentu Yoongi―yang menyapanya dengan tepukan di punggung sambil mengatakan: “I heard the good news. Congrats, Kid.”

Well, Taehyung tak tahu apakah Yoongi membicarakan hal tentang hubungannya dengan Mia atau penghargaan yang baru saja ia terima. Kakak lelaki sekampung halamannya berhalangan hadir waktu itu.

So, have you guys engaged yet?

Oh my God, Jim, shut it!”

What? I hope the best for my best friend.”

Taehyung mendengus. “We’re taking it slowly,” jawabnya tiba-tiba serius. “Tak ingin mengulangi kesalahan yang sama; ya, kurang lebih begitu. Kami bertengkar karena hal sepele dan kau bilang egoku sebelas dua belas dengan Jungkook? Satu orang lagi dengan poin yang sama, Jim.” Lelaki itu mengedikkan dagunya ke arah Mia yang tengah bercengkerama dengan Sadie. “But I’m glad the universe force us to meet again.”

That’s what I told you.”

I’m disgusted. What am I even saying.”

Jimin terbahak keras dan saat itulah Namjoon tiba di pintu dengan bungkusan kertas di tangan. Seokjin meneriakkan tentang ritual tiup lilin yang harus cepat dimulai sebelum kuenya berantakan dan saat itulah Mia muncul di sebelah Taehyung seolah hal demikian adalah gerakan autopilot.

Your friends are amazing,” bisik si wanita ketika Yoongi meniup lilinnya dengan senyum kecil. He’s so done with all of them; but he’s a biggest softie when it comes to his best friends.

My friends are glad.”

Wanita itu terkikik kecil atas jawaban Taehyung dan buru-buru merentangkan tangan ketika Seokjin mulai membagi-bagikan kue.

Dan sisa malamnya diisi oleh mesin karaoke di ruang tengah yang tampak menderita seiring berputarnya jarum jam, sekian pasang telinga yang harus tahan banting ketika mic diraih dan mereka mencoba menyanyikan salah satu lagu klasik dengan nada tinggi di mana-mana dan … yah, khusus Taehyung, ia menikmati waktunya dengan lapang. Ketika ia menoleh dan mendapati Mia tengah tertawa lepas akibat candaan Jimin dan Jungkook, bulan-bulan terakhir yang memaksanya terkungkung dalam penyesalan terasa seperti mimpi.

Yeah, puitis dan menggelikan. Hah.

Ketika semua orang sudah lelah dengan aktivitas menguras energi―dan suara tentu saja karena Taehyung mendapati Namjoon menenggak sebotol air mineral lalu membaginya dengan Edith diiringi suara serak―Sadie meraih pemutar musiknya dan membiarkan program shuffle membubung di udara.

Adalah Namjoon, yang tiba-tiba menarik lengan Edith lantas membawanya ke tengah-tengah ruangan sementara teman-temannya yang lain terhampar di sofa dan karpet beludru. Hoseok, di sebelahnya, menyikut pelan. “Don’t let him drink too much wine in the future,” katanya; sementara sang lecturer mengangkat pinggang wanitanya dengan gerakan oleng di hadapan mereka. Edith menjerit, Namjoon terkikik.

Disusul Jimin dengan Josie yang tak berhenti tertawa di sebelahnya dan Yoongi yang practically menyeret Sadie untuk ikut serta.

“Yoon, the cookies!”

Don’t care. This is the only time we’ll get to slow dance without them laughing at me.”

Jungkook mengambil satu kali jepretan gambar sebelum membiarkan dirinya ditarik Lilia dan hampir tersandung lipatan karpet. Ketika Hoseok akhirnya tak dapat mengabaikan panggilan yang lain untuk menarik Eve, Taehyung melirik Mia yang kala itu duduk bersila di sebelahnya.

Shall we?

If you don’t mind if I step on your foot in the process,” kekeh Mia; namun ia tetap menerima uluran tangan Taehyung.

I’ll get used to that.”

Seokjin mengacak rambutnya ketika ia melewati si tertua yang kala itu sibuk menuangkan air mineral dingin untuk semua orang ditemani Julie yang dengan khidmat mendengungkan suara Phil Collins sebagai latar belakang. Jimin bersiul satu kali dan Taehyung membalasnya dengan injakan kaki. Tentu suasana romansanya tidak bertahan lama―tujuh menit dan tidak lebih―karena Hoseok tiba-tiba berkeinginan melakukan sesuatu yang ekstra dengan melakukan gerakan b-boy dan tentu, Jungkook tidak boleh tertinggal.

Lagunya berganti lagi dan kini giliran Jimin menyanyikan refrain Lady Marmalade di ujung napasnya dan―“Namjoon, stop.”

Terima kasih, Edith.

Mia tak protes waktu Taehyung mengantarnya hingga ke depan pintu apartemen―karena biasanya wanita itu akan bersikeras menyuruh lelakinya pulang kala mereka sampai di lobi. “Thank you, Tae.”

No, thank you.” Si lelaki menggeleng. “Thank you for giving me … us, a second chance. Thank you for trusting me, obviously. And―”

Oh. Kali ini rasanya stroberi.

Good night, Taehyung.”

Mia menutup pintunya dengan gerakan pelan―pipinya dihias semburat merah muda dan lelaki itu masih bisa membaui aroma peach bahkan ketika ia membalikkan tubuh. Anak tangga ke lapangan parkir terasa cepat pun angin di penghujung malam seolah menghangat. Dua detik setelah ia menyalakan mobil dan merogoh saku untuk meraih telepon genggamnya, saat itulah ia tersenyum secara otomatis.

Taehyung mematikan mesin dengan satu gerakan singkat sambil menggeleng dan membuka pintu.

You should just ask, Meemo.”

[Wouldn’t you agree, Baby, you and me got a groovy kind of love.]

(“Did you literally found me in the club and brought me home?”

“Yeah. I recognized you. I told him―”

“Him?”

“My friends been setting me in a blind dates. I’m truly sorry.”

“No, it’s okay, Meemo. You’re back with me anyway.”

“By the way I told him you’re my boyfriend the next day when he asked.”

“And?”

“He paled, of course.”)

  • 2nd installment for Her after Min Yoongi’s Suave.
  • (longest oneshot i’ve ever written whew). makasih evin udah ngajarin ngelink playlist spotifyyy uwuu!
  • hope you enjoy because i started writing this piece on september…… haha. thank you for reading!
  • they all slow dancing to phil collins’s groovy kind of love btw haha.
Advertisements

8 comments

    1. MEEMOOOOOOOOOO! AHAAAAAAAAAA KENAPA SANGAT CUTEEEE. sumpah kak fika memang punya writing voice yang sangat khas dan beneran nggak–sama sekali tidak. sedikit pun. sekecil apa pun–bikin bosen. dan bener evin, jadi bacanya kayak: “loh udah abis?” YEOKSHEEEEEEEEEEE.

      AKU MAU NGETAWAIN TAEHYUNG DONG HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA dia lucu banget beneran kayak abg yang baru kenal Mia terus cinta pada pandangan pertama. terus sumpahhhhh aku mesti amazed dengan show don’t tell-nya kak fika. yang kayak kak fika pernah bilang: “misal mau deskripsiin gedung, jangan gambarin gedungnya, tapi cahaya menyilaukannya dari jendela.” TAPI AKU SANGAT KESUSAHAN BUAT BISA MENULIS DEMIKIAN HEUHEUHEU. serius aku salut sama kak fika!

      terus jokes-nya ngena banget yeoksheeee aku berapa kali ya ngakak sampe nggak kehitung wkwkwkw. dan aku gemas sama jungkook ini kenapa sih aku tidak pernah tidak gemas sama dia hahahaha padahal dia nggak keluar banyak. terus aku suka Mia tenang gitu waktu selama sama Taehyung. dewasa gitu aku sukaaaa (dan itu bikin aku jadi lebih ngetawain Tae karena dia parah parah saltingnya HAHAHAHAHAAHA).

      terus ini agak jahat tapi aku selalu suka sama pasangan waktu cemburu-cemburu gitu wkwkwkkw gemas. dan Sungjae yang kebayang di aku Sungjae BTOB masa kak fik. DAN AKU SUKA DIA. DIA LUCU BANGET. DIA JALSENGGYEOTTA DAN MANIS DAN KOCAK DAN SERU DAN GAK BOSENIN DAN SANGAT KIYOWO JADI AKU KEBAYANG TAEHYUNG CEMBURU SEBESAR APA HAHAHAHAHAHAAHA.

      terus kebayang gimana nervous-nya waktu mereka ke acara keluarganya Mia. gimana ya, aku sampe susah mendeksripsikan wkwkwkw. kayak gimana ya, Ibu udah setuju dan cocok sama Taehyung tapi ternyata ada yg bikin mereka putus dan Ibu udah telanjur seneng kalau anak perempuannya sama cowok itu jadi diundanglah ke acara keluarga yg mana jadi udah kayak keluarga sendiri. jadi rasanya kayak kalo nggak sama Taehyung itu kayak sayang banget kan, kak fik? soalnya udah menyangkut persetujuan orang tua dan setiap hubungan nggak mesti dapet respons se-welcome itu (apalagi aslinya mereka masih cocok) jadi pas dateng sebagai mantan itu rasanya kayak…….. ((BEL, U NGOMONG APA SEH HAHAHAHAHAHAHAHA)).

      ngakak terkerasku adalah waktu namjoon ikutan nyanyi tapi distop sama edith WKWKWKWKWWKWKW WHAT A WONDERFUL WORLD. lucu banget so kiyowoooo.

      kak fika beneran tapi aku penasaran kenapa taehyung sama mia putus? karena biasanya di balik dua orang yg balikan adalah alasan putus yang tidak berhubungan dengan kepribadian hehehe jadi penasaraan ((maafkan kak fik ini anaknya nggak curhat kok cuma kebanyakan mengamati orang pacaran wkwkwkwkww)). apakah itu akan terjawab di WINE??? (EAAAAAAA).

      lah bentar… aku jadi keinget janjiku ke kak fika yang project hoseok astaga bahkan ide pun belum ada. :””””

      KAK FIIIIIIKKKKKK TERIMA KASIH BANYAK SUDAH MENGISAHKAN TAEHYUNG DENGAN SEPENUH HATI BERSAMA MIA DENGAN KHASNYA KAK FIKA FAVORITQU. SEMANGAT TERUS BAIK REAL LIFE DAN MENULISNYA KAK FIKA JANGAN KECAPEKAN SUPAYA TIDAK SAKIT KAPIKO SARANGHAE. ❤️❤️❤️❤️❤️

      Liked by 1 person

    1. kak fika, brace yourself. ini bakal jadi oneshot sendiri.

      firstly, yaaaaaaaaaaaaaaaaay! akhirnya jadi juga! aku selalu menunggu installment ini (paling penasaran punya hoseok, aslik, kak ayo bikin punya hoseok) dan pas kak fika bilang lagi ngerjain punya taehyung aku langsung hype sendiri dan percayalah 4 bulan terbayarkan!

      ini aku komen gimana ya enaknya. gini deh:
      1) oops – LAGUNYA ENAK BANGET?? aku ga begitu ngikutin lagu-lagu yang lagi hype karena kadang aku merasa mainstream HAGHAGHAG tapi ini enak bangeeet! lanjut ke ceritanya. ih. jeon. jungkook. pengen aku doain keselek sereal. jiminnya…….. somehow masa aku masih terbayang jimin-playboy-flirting-tengil-nyebelin=jimin-prussian-blue jadi aku ngebayangin kalo jimin-prussian-blue tobat ketemu cewek ga tikung sana-sini, kayaknya beginilah rupanya HAHAHAHA. DAN NARASINYA AKU SUKA!!!! gatau kak masa aku ngerasa narasi kakak dari awal sampe akhir gayanya agak beda (meskipun ada beberapa repetisi (yang banyak itu repetisi pengandaian)) tapi fresh bangeeet. jadi kerasa kalut/paniknya si taetae :”))
      2) closer – begini begini nih. ketemu mantan terus “eh halo!” terus “halo!” eh akhirnya malah berlanjut. HAH. btw sebelum kak fika mengasumsi apa-apa, engga bukan based on my story kok. cuma aku kzl aja bcs geregetaaaaaaaan.
      3) come see about me – HAHAHAHAHAHAH makcomblang!jimin HAHAHAHAHAHAHAHA. sumpah sih kak ini asik banget diikutin bcs readers tuh jadi ikut geregetan sama pikirannya si taehyung. jadi ikut degdegan rasanya deketin mantan gimana hahahaha. terus ini menang bangeeeet “You say that like I’m an immortal freak trying to impress his mate.” DAN TAEHYUNG AS DORIAN GRAYYYYYYYYY
      4.) love me like you – MEMMOOOOOOOO lucu banget kenapa sih. dan aku selalu suka konsep pasangan ngunjungin keluarga, pasangan deket sama keluarga, terus taehyung mainan sama anak kecill donggggggg ah kak fika :”))) dan SUNGJAE! akhirnya keluar juga hahahahaha. waktu kemaren kita mikir bingung banget ya kak. untung akhirnya dapet yang pas :”)
      5.) truthfully – ini adalah saat di mana aku mengepalkan tangan ke atas dan berteriak “yaaaaaaaaaaay!” bcs ini udah jelas ini mah mia juga baper ini mah. jelas ini balikan. aku tuh ngeliat tae yang di awal-awal capek tapi masih bela-belain mau bangun demi ketemu mia yang kayak :”))) omg i need a man like this. dan yas yes yas yus. dan grup idol ini… kayaknya bangtan dalam bangtan ga sih, kak? OMG. BANGTANCEPTION.
      6.) slow hands/groovy kind of love – i love every detail of it. every. detail. mulai dari interaksi sama si jimin. terus mereka berdua juga. terus bangtan sama pasangan masing-masing. detil mommy hen seokjin dan julie. SADIE DAN YOONGIIIIIIIIIII AKU KANGEN. liv-jeon, eve-hoseok masih kabur tapi inilah yang kutunggu-tunggu. terus aku punya request. please, enjun terakhir aja kak. bcs im sure it’s gonna kill me. ini baru ngeliat enjun ngajak edith dansa aja perutku udah tumbuh semak-semak bunga. mana si edith pekerjaannya….. HAH. tolong, kak, tolong :((( aku janji tidak akan menuntut.

      dan heyaaaaaaa tulisan kak fika mau crime/romance/angst/apa pun selalu lit! segala detail occupation, backstory, cerita, kekuatan karakter nyebar dan pas gitu loh. kalau masalah flaw, tbh di awal-awal aku bisa “nebak” (gatau bener apa engga, hehe) di mana kakak selesai nulis dan ngelanjutin. terus ini repetisi pengandaiannya cukup banyak kak. oh sama 4th wall breaking… aku ada beberapa tempat yang malah kayak sedikit ganggu. sama aku nemu kata “suka cita” which is harusnya “sukacita” dan angka 3 hari atau 3 kali atau 3 apa di atas yang harusnya “tiga” karena cuma satu angka. but lebih dari segala itu, ini well-written sekali. plotnya rapi. timeline-nya rapi. karakter rapi. cerita rapi. diramu pake playlist yang pas banget. keren!!!!!! please ajarin aku gimana caranya bikin sebuah cerita manis yang pas seperti ini kak bcs punyaku cheesy as flibbity gibbit.

      buset komenku spamming banget. gapapa masuk kotak spam. aku rela aku relaaaaa. tapi tulisan sepanjang dan se-enjoying-sampe-ga-kerasa-eh-tiba-tiba-abis gini harus dihargaaiiiiii. once again, thanks a lot kak for providing a quality content! me loves you and keep writing! <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3 <3

      Liked by 1 person

  1. Halo kak fika! Aku td lg ngeschedule postingan terus liat kak fika ngepost jd mau baca krn liat judulnya “mignon” trs aku lgsg inget dulu aku pernah pake mignon jg jd pet name di ceritaku LOLOL trs mau baca mumpung udh lama ga baca di wp, krn udh lama sekalian aja yg panjang lgsg wakakakakak.

    Ini apa ya mantan2an!!!!! Tp knp gemes bgt!?!?!? Kayak semacem pacaran-putus-hts an gajelas-balikan gitu ya taehyung sama mia-nya. Emg susah bgt ya kdg kalo liat characters yg udh keliatan meant for each other tp masih malu2 sok2 gamau rasanya pgn kukerangkeng dua2nya ((trs 7 minutes in heaven dong :) HAHAHAHA)). Trs apa ya kok aku jd bingung ABIS GEMES lucu bgt kak fika!!!!! Udh2 ini malem knp aku jd gajelas gini. Nnt kak fikanya pusing HAHAHA keep writing kak fikaaa!😉😉😉

    Liked by 1 person

    1. KAK FIKAAAAAAAAAA FAN-MU INI KANGEN SEKALIIIII HUHUHUHUHUHUHU!! gimana kabarnya kak fik? semoga semua kegiatan kak fik di real life berjalan dengan lancar, yaahh!

      btw waw sama seperti evin aku sangat menantikan installment-nya bapak jung:” bikos i have a gut bakal sangat sangat impactful (yha). yang bisa kulakukan hanyalah jadi cheerleader kak fika. semangat kak! ‘-‘)9

      TERUS! TERUS! aku mau komen mignon dulu ah. kayaknya aku bakal bikin brief summary aja soalnya kayaknya kalau kuketik akan sangat panjang:”) akuu suka banget cover-nya kak! kim tae plus kemeja merah itu sangat djcbsibcbdbis apalagi kalau dia rambutnya juga ikutan merah ngebawa vibes agak rebel gimana gitu ehe.

      kak aku harus kasih pujian banyak banyak melimpah banget untuk karakterisasi mia huhuhuhu. bisa aja kepikiran tae dipasangin sama dosen gitu! pembawaan mianya juga (menurut interpretasi aku, sih) anggun, kalem, terus jadi idaman mahasiswa-mahasiswa juga sangat populer di kampus. kembang kampus hehehe. entah kenapa jadinya fit sama karakter actor!tae yang spontan. OHYA. aku juga sukaaa kak fika ngejadiin tae sangaaattt dewasaaa bikos aku sangat craving karakterisasi yang ngejadiin dia begini. biasanya dia mah dijadiin cowok jahil-petakilan-setengah gila di fic-fic lain :”) yeokshi, aku cinta kak fika!

      terus ini ceritanya juga nggak kalah unikk!! mau jadian lagi sama mantan. butuh keberanian gede buat minta balikan huhu aku suka gimana kak fika ngegambarin gimana usahanya tae waktu mau ngajak mia balikan, terus sampe akhirnya mereka hts, sampe mereka jadian lagi itu djbcsbhbusb

      scene favorit aku waktu anak-anak bangtan sama pasangannya somehow ended up dancing! uuu lucu bangettt ngebayanginnyaa. berasa kayak pertemuan keluarga gitu masa vibes-nya—so warm!

      sudah deh itu aja brief summary-nya (padahal tetep panjang). ringkasannya lagi adalah veli tetap cinta tulisan kak fika huhuhu <3 semangatt kakakkk!

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.